Jumat, 05-12-2025
  • Santri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter Lokal
  • Santri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter LokalSantri Aswaja, Mandiri, Unggul, Berwawasan Global, Berkarakter Lokal

Manaqib Ki Ageng Pemanahan

Diterbitkan : Kamis, 23 Oktober 2025

Ki Ageng Pamanahan atau Kyai Gede Pamanahan dikenal juga sebagai Kyai Gede Mataram adalah seorang tokoh perintis wangsa Mataram yang berasal dari Sela (sebuah desa di Grobogan) dan kemudian hijrah ke Pengging. Ia dijuluki sebagai “Pamanahan” karena bertempat tinggal di desa Manahan, suatu tempat di utara Laweyan (sekarang menjadi salah satu kelurahan di Surakarta).

Pada tahun 1556 ia mendapat mandat dari Sultan Adiwijaya (raja Pajang) untuk membuka pemukiman di hutan Mentaok. Putranya, Raden Ngabehi Saloring Pasar (Danang Sutawijaya), kelak menjadi keturunan pertama darinya yang memimpin daerah tersebut dan di kemudian hari mendirikan kerajaan yang disebut Kesultanan Mataram bergelar Panembahan Senapati.

Awal kehidupan

Pada Babad Tanah Jawi diketahui bahwa Ki Ageng Pamanahan adalah putra dari Ki Ageng Enis, ayahnya merupakan keturunan Ki Ageng Sela yang pindah dan bertempat tinggal di Laweyan. Mereka adalah termasuk dalam rombongan orang-orang dari Sela, suatu desa yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Grobogan. Mereka hijrah ke Pengging untuk membantu Sultan Adiwijaya.

Pamanahan menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah (Nyai Ageng Pamanahan), putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Enis). Menurut Sadjarah Dalem, nama kecilnya adalah Bagoes Kacung, atau Castioeng menurut van der Horst. Ia memiliki saudara angkat bernama Ki Panjawi. Keduanya belajar pada Ki Ageng Sela.

Murid Sunan Kalijaga

Raden Bagus Kacung atau Ki Ageng Pemanahan adalah putra dari Ki Ageng Henis seorang Penasehat Spiritual Raja Pajang dan Pemuka agama di Laweyan Kerajaan Pajang,
Raden Bagus Kacung pada masa mudanya banyak mengenyam pendidikan dari para Eyangnya yang hebat antara lain Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Ngerang juga ayahandanya sendiri Ki Ageng Henis. Sepertinya Sunan Kalijaga sudah tahu bahwa kepada Raden Bagus Kacung lah kelak ” Wahyu Raja Tanah Jawa ” akan turun.

Menurut K.R.T Koesrahadi Sajid Jayaningrat, Raden Bagus Kacung adalah Priyayi yang sholeh, tekun menjalankan syariat agama, sosok yang sederhana, cerdas, gesit juga bijaksana. Beliau juga ahli diberbagai ilmu kanuragan / bela diri. Hingga kelak ketika ayahandanya ditunjuk oleh Sultan Hadiwijaya menjadi Penasehat Spiritual Raja di Kraton Pajang, tidak lama kemudian Raden Bagus Kacung diangkat menjadi Lurah Mantri Tamtama Kraton Pajang dan bertempat tinggal di Dukuh Pemanahan. Dan bergelar Ki Ageng Pemanahan. Dan kemudian hari Dukuh Pemanahan di kenal sebagai wilayah Manahan, dan tempat tinggal / Padepokan beliau di kenal dengan nama Depok. Di sana masih ada petilasan beliau, tempat sholat dan mata air untuk wudhu juga untuk keperluan lainnya.

Ki Ageng Pemanahan pada masa mudanya menjalin persahabatan dengan Raden Karebet (Sultan Hadiwijaya), Ki Juru Mertani (sepupu & adik ipar), dan Raden Penjawi (sepupu)
Kedekatan Ki Ageng Pemanahan dengan Sultan Hadiwijaya tampak terlihat ketika Sultan Hadiwijaya yang saat itu belum berputra mengangkat salah satu putra Ki Ageng Pemanahan yaitu Bagus Srubut / Raden Danang / Raden Danar sebagai putranya dan diberi nama Danang Sutawijaya/Panembahan Senopati.

Dalam berbagai kegiatan Kraton, Sultan Hadiwijaya juga mengajak Ki Ageng Pemanahan untuk mendampinginya. Termasuk ketika Sultan Hadiwijaya berkunjung ke Padepokan Sunan Kudus juga ke tempat Ratu Kalinyamat. Disana Ratu Kalinyamat meminta Sultan Hadiwijaya / siapapun untuk membalaskan dendamnya atas meninggalnya Pangeran Hadiri suaminya yg terbunuh oleh Arya Penangsang. Dalam perjalanan pulang Sultan Hadiwijaya masih memikirkan ucapan Kakak iparnya tersebut, akhirnya Ki Ageng Pemanahan memberanikan diri untuk tampil melawan Arya Penangsang.
Hingga akhirnya Ki Ageng Pemanahan kelak dibantu Danang Sutawijaya, Ki Ageng Juru Mertani serta Ki Penjawi berhasil menundukkan Arya Penangsang.

Ki Ageng Pemanahan termasuk murid yang taat kepada gurunya, ketika Sunan Kalijaga memerintahkan beliau untuk bertapa ke ” Kembang Semampir ” Ki Ageng Pemanahan didampingi sepupu juga adik iparnya yaitu Ki Ageng Juru Mertani serta Danang Sutawijaya berangkat ke Kembang Semampir dan bertapa disana hampir 5 tahun lebih.

Akhir Kehidupan

Kiyai Gede Mataram memimpin Mataram hingga meninggal pada tahun 1584 dan dimakamkan di Pasarean Mataram/Makam Raja-raja Kotagede. Ia digantikan putranya, yaitu Sutawijaya sebagai pemimpin selanjutnya. Sutawijaya kemudian menjadi raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senapati, yang memerdekakan diri dari Pajang.

Pada seperempat abad ke-16 Masehi, wilayah kesultanan Mataram merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Pajang. Statusnya sebagai kadipaten dengan penguasanya yaitu Ki Ageng Pamanahan.

Diteruskan oleh Panembahan Senopati

Setelah Panembahan Senapati berkuasa di Kadipaten Mataram, ia memisahkan wilayahnya dari Kesultanan Pajang dan mendirikan kesultanan Mataram. Kesultanan Mataram didirikan olehnya pada tahun 1586. Selanjutnya pada tahun 1586 wilayah Pajang sudah menjadi bagian dari kedaulatan kesultanan Mataram diikuti penyerahan takhta Pajang oleh Pangeran Benawa kepada Panembahan Senapati. Perkembangan Mataram begitu besar dan kuat sehingga sebagian besar sejarawan setuju bahwa itu telah didirikan selama beberapa generasi perintis Mataram.

Sumber-sumber: Sejarah Raja-raja Jawa (Purwadi/2007), Babad Tanah Jawi, Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa (De Graaf dan Pigeaud/2001), tulisan K.R.T Koesrahadi Sajid Jayaningrat, Wikipedia, dll.

Oleh : Arif Kusuma Fadholy, S.Th.I
Pemerhati Sejarah dan Budaya Mataram Islam
Front Officer SDNU Pemanahan
Pengampu Mapel Bahasa Arab &
TIK, Koding, Artifisial Inteligence (AI)

Penulis : admin

Tulisan Lainnya

Membentuk Karakter Gen Alpha

Dibaca : 281 kali

Pengumuman

Atribut Direction di Tag Marquee Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru Info Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2025/2026

Alamat Sekolah

Gg. Dahlia, RT 12 Kerto Kidul, Desa Pleret, Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul

Jadwal Sholat


jadwal-sholat

CHAT DISINI